Friday, May 23, 2008

Commands: Korean Terminology

cha ryuht ------ attention
choon bi ------ ready
bah ro ------ return to starting position
dwi uro dorah ------ about face
dorah ------------ turn
elosoh ------ stand
gomahn ------ stop (also "mum cho")
geuk gi hyang ha yoh ------ face the flag
jwa woo hyang woo ------ face each other
sah bum nim keh ------ face instructor/master
sun bae nim keh ------ face senior student
simsa kwan nim keh ------ face examiner/tester
dobok dahnjung ------ fix your uniform
dhee dahnjung ------ fix your belt
hai sahn ------ class dismissed (also "hae cho")
jonglee ------ line up (also "ji hap" and "jung yul")
kyung nae ------ bow
ahnjoe ------ sit
kool o angi ------ kneel (kneeling)
bah ro angi ------ sit in lotus position (yoga posture)
bahl bah kwah ------ switch your stance (switch your feet)
koo ryung op see ------ in your own time
seijak ------ begin
shiuh ------ relax
kalyeo ------ break (or stop)
kae sok ------ continue

Common Phrases: Korean Terminology

ye --------------- yes (also "ne")
anio --------------- no
kahm sa hamnida --------------- thank you
komap sumnida --------------- less formal form of "thank you"
cheon maeneyo -------------- you're welcome (literally "Don't mention it!")
cheuk ka hamnida --------------- congratulations!
ahnyong hasimnika ------ How are you? (literally "Are you well?" )
ahnyong hasayo ----------- less formal form of "How are you?"
yoboseyo ------------------- hello (used on the phone )
ahnyonghee gasipsiyo ------------ good-bye (to the person who is leaving)
ahnyonghee gyesipsiyo ----------- good-bye (to the person who is staying)
ahnyonghee gasayo ----------- less formal form of "good-bye"
ahnyonghee gyesayo ------------------- less formal form of "good-bye"
pangap seumnida ------------------- Pleased to meet you!
toh poepkeseoyo ------------------- See you later!
eoseo osayo ------------------- Welcome!
choesong hamnida ------------------- I'm sorry
mian hamnida ------------------- less formal form of "I'm sorry!"
shillye hamnida ---------- Excuse me!
kwaen chanayo ------------------- That's all right
ahlge seoyo ------------------- I understand
moreuge seoyo ------------------- I don't understand
chaemi isseoyo ------------------- It is fun (or interesting)!

Sparing : Korean Terminology

kyorugi -------- (free) sparring
han bun kyorugi -------- one step sparring
doo bun kyorugi -------- two step sparring
sae bun kyorugi -------- three step sparring
bahn ja yu kyorugi -------- semi free sparring
machu oh kyorugi -------- arranged free sparring
jeon -------- round (competition segment)
shihap -------- bout or match
jeum -------- point
shi gan -------- time out
keum bahk -------- out of bounds
kyong go -------- warning
gam jeum -------- deduction of point
shil kyuk -------- disqualification
boo sang -------- injury
seung -------- win
bi kim -------- tie
chung -------- blue
hong -------- red
hin -------- white
jajun bahl -------- use of footwork to dodge a technique
nachugi -------- body evasion by "ducking"

Thursday, May 22, 2008

Pembagian Klas Taekwondo

Berikut pembagian klas yang dipertandingkan dalam Taekwondo menurut World Taekwondo Federation

Kategory Senior Pria / Male
Fin - Kurang dari 54 Kg
Fly - 54 Kg - 58 Kg
Bantam - 58 Kg - 62 Kg
Feather - 62 Kg - 67 Kg
Light - 67 Kg - 72 Kg
Welter - 72 Kg - 78 Kg
Middle - 78 Kg - 84 Kg
Heavy - 84 Kg keatas

Kategory Senior Wanita / Female

Fin - Kurang dari 47 Kg
Fly - 47 Kg - 51 Kg
Bantam - 51 Kg - 55 Kg
Feather - 55 Kg - 59 Kg
Light - 59 Kg - 63 Kg
Welter - 63 Kg - 67 Kg
Middle - 67 Kg - 72 Kg
Heavy - 72 Kg keatas

Kategory Junior Pria / Male
Fin - Kurang dari 45 Kg
Fly - 45 Kg - 48 Kg
Bantam - 48 Kg - 51 Kg
Feather - 51 Kg - 55 Kg
Light - 55 Kg - 59 Kg
Welter - 59 Kg - 63 Kg
Ligh Middle - 63 Kg - 68 Kg
Middle - 68 Kg - 73 Kg
Light Heavy - 73 - 78 Kg
Heavy - 78 Kg Ke atas

Kategory Junior Wanita / Female
Fin - Kurang dari 42 Kg
Fly - 42 Kg - 44 Kg
Bantam - 44 Kg - 46 Kg
Feather - 46 Kg - 49 Kg
Light - 49 Kg - 52 Kg
Welter - 52 Kg - 55 Kg
Ligh Middle - 55 Kg - 59 Kg
Middle - 59 Kg - 63 Kg
Light Heavy - 63 Kg - 68 Kg
Heavy - 68 Kg Ke atas

MATERI TEHNIK TAEKWONDO

TINGKAT SABUK/GEUP : PUTIH / X
Teknik Tangan : Kuda-kuda Apkoobi, Joosum Seogi

Tangkisan ( Makki )

- Arae Makki : Tangkisan ke arah bawah

- Momtong An Makki : Tangkisan ke arah perut dari luar ke dalam

- Momtong Bagkat Makki : Tangkisan ke arah perut dari dalam ke luar

- Eolgol Makki : Tangkisan ke arah kepala

- Batangson Arae Makki : Tangkisan ke arah bawah dengan telapak tangan

Pukulan ( Jireugi )

- Momtong Jireugi : Pukulan ke arah perut

- Eolgol Jireugi : Pukulan ke arah kepala

- Gabrion / Dobeon : Pukulan dua kali ke arah perut

- Sambion : Pukulan tiga kali ke arah kepala, leher, perut

Cekikan / Sodokan ( Chireugi )

- Ageum son keut chireugi : Cekikan ke arah leher

- Gawison keut chireugi : Sodokan ke arah mata dengan dua jari

- Ape son keut chireugi : Sodokan ke arah leher dengan ujung jari

- Pionson keut chireugi : Sodokan ke arah ulu hati dengan ujung jari

Sabetan ( Chigi )

- Sonal Mok Chigi : Sabetan ke arah leher/pelipis
Teknik Tendangan (Chagi)

- Momtong Ap Chagi : Tendangan lurus ke arah perut dengan Apchook

- Eolgol Ap Chagi : Tendangan lurus ke arah kepala dengan Apchook

- Noppi Ap Chagi : Tendangan melompat lurus dengan Apchook

- Dello / Ball Chagi : Tendangan mencangkul arah kepala

- Dollyo Chagi : Tendangan melingkar

TINGKAT SABUK : KUNING POLOS - KUNING STRIP GEUP : IX-VIII


Materi Teknik
Teknik Tangan :

- Doopalmok Makki : Tangkisan dua tangan kearah perut

- Dobeon Jireugi : Pukulan dua kali arah perut

- Sambion : Pukulan tiga kali arah kepala, leher, perut.

- Chiq Jireugi : Pukulan kearah dagu.

- Batangson momtong Makki : Tangkisan dengan telapak tangan kearah perut.

- Sonnal Momtong Makki : Tangkisan kearah perut dgn telapak tangan bentuk sonal.

- Hansonal Momtong Makki : Tangkisan tangan menyilang di dada, satu dikepal yang menangkis membentuk sonal.

- Momtong yeoup jireugi : Pukulan menyodok dari arah samping kearah perut.

Tendangan ( Chagi )

- Momtong Dollyo chagi : Tendangan melingkar kearah perut

- Eolgol Dollyo chagi : Tendangan melingkar kearah kepala

- Dwi Chagi : Tendangan balik menyodok kearah perut

- Yeoup chagi : Tendangan balik menyodok kepala dengan pisau kaki

- Yeoup Khurigi : Tendangan mengkait arah kepala

- Idan Dollyo chagi : Tendangan melingkar dengan kaki depan.

- Puti Chagi : Tendangan menampar dari luar kedalam

- Puti Chumagi : Tendangan menampar dari dalam keluar

TINGKAT SABUK : HIJAU - HIJAU STRIP GEUP : VII-VI


Materi Teknik
Teknik Tangan :

- Pionsonkeut sewo chirugi : Sodokan kearah perut dengan dibarengi tangkisan

- Dollyo Jireugi : Pukulan melingkar kearah pelipis

- Jibibem sonal mok chigi : Sabetan kearah kepala dibarengi dengan tangkisan

- Bagat Palmok Makki : Tangkisan dengan dua telapak tangan mengepal kerah perut.

Tendangan ( Chagi )

- Dolke chagi : Tendangan berputar 180 derajat, dengan punggung kaki

- Dwi yeoup chagi : Tendangan balik menyodok leher dengan pisau kaki

- Idan Yeoup chagi : Tendangan menyodok dengan kaki depan, membentuk pisau kaki kearah leher.

- Idan Yeoup Khurigi : Tendangan mengkait kearah kepala dengan menggunakan telapak kaki depan.

- Pekta Chagi : Tendangan kaki depan ditarik setengah menggunakan punggung kaki.

- Twio Dollyo Chagi : Tendangan melompat /slaiding ditempat / kebelakang

- Mad badad chagi : Tendangan melompat / slaiding kesamping

- Ball Badad : Tendangan mendorong dengan seluruh bagian telapak kaki

TINGKAT SABUK : BIRU – BIRU STRIP GEUP : V-IV

Materi Teknik
Teknik Tangan :

- Jibibeum Sonnal mok chigi : Sabetan dan tangkisan secara bersamaan arah kepala telapak terbuka.

- Jibibeum Theok chigi : Sodokan arah dagu dan tangkisan secara bersamaan kearah kepala telapak tangan terbuka.

- Palkop piojok chigi : Serangan menggunakan sikut dengan satu tangan sementara tangan lain meraih kepala.

- Dollyo palkop : Serangan melingkar dengan menggunakan sikut.

- Yeoup Palkop : Serangan menyodok dengan menggunakan sikut.

- Dwi Palkop : Serangan dari arah bawah dengan menggunakan sikut.

- Ollio Palkop : Serangan balik kearah belakang dengan menggunakan sikut.

Tendangan ( Chagi ) :

- Twio Dwi Chagi : Tendangan lompat ditempat berbalik kebelakang, menyodok kearah perut

- Dwi Khurigi : Tendangan berbalik mengkait dengan menggunakan telapak kaki.

- Narae chagi : Tendangan dengan menggunakan punggung kaki secara langsung 2 kali atau lebih.

- Idan Ap Khurigi : Tendangan mengkait arah depan/muka dengan telapak kaki.

- Idan Palko Dwi Chagi : Tendangan lompat sejajar kaki depan diangkat dan kaki belakang menendang balik dengan tumit kaki.

Noppi Dwi Chagi : Tendangan kaki belakang laiding diangkat ke depan sedangkan kaki depan balik menendang dengan tumit kaki.

Noppi Dwi Khurigi : Sama dengan Noppi Dwi Chagi namun menendangnya dengan telapak kaki secara mengkait.

Friday, May 9, 2008

Taekwondo Terminology


Counting 1-20

1.…..Hana

2...…Dool

3...…Set

4...…Net

5...…Dasut

6...…Yosut

7...…Ill Gop

8...…Yo dol

9...…A-Hoop

10.…Yoal

11.…Yoal-Hana

20.…Soo Mool

Counting 21-100

21.…Soo Mool Hana

30.…Saroon

31.…Saroon Hana

40.…Mahoon

41.…Mahoon Hana

50.…Shioon

60.…Yesoon

70.…Ilheun

80.…Yudoon

90.…Aheun

100...Bak

Listings 1st-50th

1st…Ill

2nd….Ee

3rd…..Sam

4th…..Sah

5th…..Oh

6th…..Yook

7th…..Chil

8th…..Pahl

9th…..Koo

10th…Ship

20th…Eeship

30th…Samship

40th…Sahship

50th…Ohship

Seni Beladiri

Seni bela diri merupakan satu kesenian yang timbul sebagai satu cara seseorang itu mempertahankan diri. Seni bela diri telah lama wujud dan pada mulanya ia berkembang di medan pertempuran sebelum secara perlahan-lahan apabila peperangan telah berkurangan dan penggunaan senjata moden mula digunakan secara berleluasa, seni bela diri mula berkembang dikalangan mereka yang bukannya anggota tentera tetapi merupakan orang awam.

Boleh dikatakan seni bela diri terdapat di merata-merata di dunia ini dan hampir setiap negara mempunyai seni bela diri yang berkembang samaada secara tempatan atau diubah suai daripada seni bela diri luar yang meresap masuk. Sebagai contoh seni silat adalah seni bela diri yang berkembang di negara ASEAN dan terdapat di Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Brunei.

Bagaimanapun kemudahan perhubungan dan komunikasi yang adapada masa ini memudahkan perkembangan idea dan seni bela diri tidak lagi terhad di tanah asalnya tetapi telah berkembang keseluruh dunia.

Seni bela diri juga terbahagi kepada beberapa jenis daripada seni tempur bersenjata tajam, senjata tidak tajam seperti kayu, dan seni tempur tangan kosong. Di antara jenis-jenis seni bela diri yang ada adalah seperti berikut:

Aikido, Capoeira, Gulat, Hapkido, Jiu Jitsu, Judo, Kalaripayat, Karate, Kendo, Kung fu, Silambam, Silat, Taekwondo, Tomoi, Wing Tsun, Wun-hup-kuen-do, Wushu

AIKIDO

Aikido adalah salah satu seni beladiri asal Jepun yang diciptakan oleh Morihei Ueshiba. Aikido diciptakan pada era modernisasi Jepang yang berlangsung sekitar tahun 1800-an. Beladiri ini merupakan kombinasi dari ilmu pedang Kenjutsu dan Jujutsu yang juga merupakan bentuk seni beladiri tradisional Jepang. Pengaruh Kenjutsu tampak dalam pengaturan gerakan gerakan atau langkah langkah kaki. Sedangkan pengaruh jujutsu tampak dalam penggunaan teknik kuncian dan lemparan.

Aikido adalah salah satu seni mempertahan diri yang berasal dari Jepun yang dicipta oleh Morihei Ueshiba. Aikido diciptakan pada era modernisasi Jepun yang berlangsung sekitar tahun 1800an. Beladiri ini merupakan kombinasi dari ilmu pedang Kenjutsu dan Jujutsu yang juga merupakan bentuk seni bela diri tradisional Jepun. Pengaruh Kenjutsu boleh dilihat dalam pengaturan gerakan-gerakan atau langkah kaki. Sedangkan pengaruh jujutsu pula kelihatan dalam penggunaan teknik kuncian dan lemparan.

Seni mempertahankan diri ini dicipta dengan menekankan harmonisasi dan keselarasan antara ki (tenaga dalam) individu dengan ki alam semesta. Aikido juga menekankan pada prinsip kelembutan dan bagaimana untuk mengasihi serta membimbing lawan. Prinsip ini diterapkan pada gerakan-gerakannya yang tidak menangkis serangan lawan atau melawan kekuatan dengan kekuatan tetapi "mengarahkan" serangan lawan untuk kemudiannya menundukkan lawan tanpa ada niat untuk mencederai lawan. Berbeza dengan seni mempertahankan diri lain yang pada umumnya lebih mengutamakan pada latihan kekuatan fizikal dan stamina, Aikido mendasarkan latihannya lebih pada penguasaan diri dan kesempurnaan teknik. Teknik-teknik yang digunakan dalam Aikido kebanyakan berupa teknik elakan, kuncian, lemparan dan bantingan. Sementara teknik-teknik pukulan ataupun tendangan biasanya jarang digunakan. Falsafah-falsafah yang mendasari Aikido, iaitu kasih dan konsep mengenai ki inilah yang membuat Aikido menjadi suatu seni mempertahankan diri yang unik.

Sistem tingkatan yang harus dilalui oleh seorang pelajar aikido (digelar aikidoka) hampir sama dengan yang digunakan oleh seni bela diri asal Jepun lainnya, iaitu sistem Kyu untuk tingkat asas dan Dan untuk tingkat mahir. Secara ringkas, aikidoka baru (tingkat Kyu 6) hingga Kyu 4 menggunakan tanda berupa sabuk yang berwarna putih. Sementara aikidoka yang mencapai tingkatan Kyu 3 hingga 1 menggunakan sabuk berwarna coklat. Tingkatan selanjutnya adalah Dan, dan aikidoka yang berjaya mencapai tingkatan ini ditandai dengan sabuk yang berwarna hitam serta peralatan tambahan berupa celana panjang bernama Hakama. Celana seperti ini biasa dipakai oleh samurai-samurai pada zaman dahulu.

Seni beladiri ini diciptakan dengan menekankan harmonisasi dan keselarasan antara energi ki(prana) individu dengan ki alam semesta. Aikido juga menekankan pada prinsip kelembutan dan bagaimana untuk mengasihi serta membimbing lawan.

Prinsip ini diterapkan pada gerakan-gerakannya yang tidak menangkis serangan lawan atau melawan kekuatan dengan kekuatan tetapi "mengarahkan" serangan lawan untuk kemudian menaklukkan lawan tanpa ada niat untuk mencederai lawan. Berbeda dengan beladiri pada umumnya yang lebih mengutamakan pada latihan kekuatan fisik dan stamina, Aikido lebih mendasarkan latihannya pada penguasaan diri dan kesempurnaan teknik. Teknik teknik yang digunakan dalam Aikido kebanyakan berupa teknik elakan, kuncian, lemparan, bantingan. Sementara teknik teknik pukulan maupun tendangan dalam praktiknya jarang digunakan.Falsafah falsafah yang mendasari Aikido, yaitu kasih dan konsep mengenai ki inilah yang membuat Aikido menjadi suatu seni beladiri yang unik.

Sistem tingkatan yang harus dilalui oleh seorang praktisi aikido hampir sama dengan yang digunakan oleh seni beladiri asal Jepang lainnya, yaitu sistem Kyu untuk tingkat dasar dan Dan untuk tingkat mahir. Secara singkat, praktisi yang berada di tingkat kyu 6 sampai kyu 4 menggunakan tanda berupa sabuk yang berwarna putih. Sementara praktisi yang mencapai tingkatan kyu 3 sampai 1 menggunakan sabuk berwarna cokelat. Tingkatan selanjutnya adalah Dan. Praktisi yang mencapai tingkatan ini ditandai dengan sabuk yang berwarna hitam serta aksesoris tambahan berupa celana panjang bernama Hakama. Celana seperti ini biasa dipakai oleh para samurai pada jaman dahulu.

CAPOEIRA

Capoeira merupakan sebuah olah raga bela diri yang dikembangkan oleh para budak Afrika di Brasil pada sekitar tahun 1500-an. Gerakan dalam capoeira menyerupai tarian dan bertitik berat pada tendangan. Pertarungan dalam capoeira biasanya diiringi oleh musik dan disebut Jogo. Capoeira sering dikritik karena banyak orang meragukan keampuhannya dalam pertarungan sungguhan, dibanding seni bela diri lainnya seperti Karate atau Taekwondo.

apa itu capoeira? Bahkan, bagi orang yang telah menyaksikannya sendiri, capoeira sulit untuk serta-merta didefinisikan. Suatu tarian? Suatu permainan? Suatu ilmu bela diri? Jawabannya, capoeira adalah gabungan itu semua dan lebih lagi. Dan, para pemain capoeira-yang disebut capoerista atau capoeira-meyakini itu dan menjalaninya.

Capoeira memang Brasil. Namun, orang tak sepakat mengenai asalnya. Bira Almeida, seorang pendekar capoeira yang dikenal orang dengan sebutan Mestre Acordeon dan yang melatih di San Francisco, AS, mengatakan ada tiga teori mengenai asal bentuk kesenian yang melibatkan gerakan, musik, dan unsur-unsur filsafat praktis itu. Ada yang percaya capoeira telah terbentuk di Afrika dan dibawa dalam bentuk yang sudah jadi oleh budak-budak dari tanah Afrika. Teori kedua menyebutkan capoeira diciptakan orang-orang Afrika dan keturunannya di daerah pedalaman Brasil, sedangkan teori ketiga menyebutkan capoeira diciptakan orang-orang dari Afrika di salah satu pusat perkotaan Brasil.

Walau pendukung masing-masing teori memberikan argumen yang mendukung dan yang sudah didiskusikan sejak lama, teori yang paling banyak diterima adalah teori yang kedua bahwa para budak Afrika membawa berbagai unsur kebudayaan dari tanah asalnya, lalu mengolah dan menggabungkannya di tanah Brasil, sehingga terciptalah apa yang disebut capoeira.
Waldeloir Rego-seorang sosiolog Brasil-dalam bukunya, Capoeira Angola, yang diterbitkan Editora Itapua tahun 1968, berpendapat capoeira diciptakan di Brasil dengan serangkaian gerakan dan irama yang terus diperbaiki dan disesuaikan dengan perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat.

Nestor Capoeira, penulis beberapa buku panduan capoeira, menyebutkan apa yang diyakini oleh sebagian besar capoerista bahwa itu merupakan sintesis tarian, pertarungan, dan alat musik dari berbagai kebudayaan berbeda, dari berbagai wilayah Afrika. Sintesis itu diciptakan di tanah Brasil, kemungkinan di Salvador, ibu kota negara bagian Bahia, pada masa perbudakan, terutama selama abad ke-19.

Capoeira merupakan sejenis silat yang diperkembangkan oleh abdi Brazil semasa zaman jajahan. Silat ini berkait rapat dengan paranawe, sejenis tarian tradisional di negara tersebut.
Silat ini dicirikan oleh pergerakan yang cekap serta rumit, dan selalunya dilaksanakan dengan melekapkan badan atas lantai ataupun berdiri terbalik. Capoeira sentiasa dimain dengan muzik dan terdiri daripada dua gaya yang utama:
Angola: dicirikan oleh pergerakan yang lambat dan menumpukan kepada upacara amal serta tradisi capoeira;
Regional (disebut heh-jeeh-oh-nahl): dicirikan oleh pergerakan akrobat dengan penumpuan kepada teknik dan strategi.
Kedua-dua gaya ditandakan dengan penggunaan helah dan pergerakan berpura-pura serta gerak kaki yang meluas seperti ayunan, tendangan dan sondolan.

Keasalan perkataan capoeira telah dipertikaikan. Ada yang mengatakan perkataan ini merujuk kepada kawasan hutan yang telah dipugar. Bagaimanapun, cendekiawan Afro-Brazil, Carios Engenio, percaya bahawa perkataan ini merujuk kepada capa, sejenis bakul besar dan bulat yang dijunjung oleh abdi bandar yang menjual barang-barang. Menurut beliau, capoeira merujuk kepada orang yang menjunjung capa. Sebaliknya, K. Kia Bunseki Fu-Kiau, seorang cendekiawan Kongo, menggangap bahawa capoeira merupakan kecacatan perkataan kipura dalam bahasa Kikongo yang membawa maksud "mengepak-ngepak, bergerak pantas dari tempat ke tempat, bergelut ataupun bertumbuk". Khususnya, istilah ini digunakan untuk memerikan pergerakan ayam jantan dalam pertempuran.
Baru-baru ini, Capoeira telah dipopularkan oleh pelbagai filem dan permainan komputer serta ditonjolkan oleh muzik pop moden.

Apa pun teori yang diyakini orang, semua percaya bahwa budak-budak dari berbagai daerah di Afrika adalah orang-orang yang berperan utama dalam sejarah awal kelahiran capoeira di Brasil. Sampai awal abad ke-19, capoeira dan bentuk-bentuk lain ekspresi kebudayaan Afrika diizinkan, selain sebagai katup pengaman terhadap tekanan yang diciptakan oleh perbudakan, juga untuk maksud agar mereka tidak bersatu. Budak-budak itu adalah orang-orang Yoruba dan Dahomei dari kawasan yang kini menjadi Nigeria dan Liberia, orang Hausa, serta orang Bantu dari Angola, Kongo, dan Mozambik. Perbedaan budaya para budak itu diharapkan para penguasa membuat mereka terpecah-belah.

Namun, mulai sekitar tahun 1814, capoeira-yang sudah mulai terbentuk dengan bersintesisnya unsur-unsur kebudayaan Afrika yang beragam itu-dan bentuk-bentuk ekspresi kebudayaan Afrika lainnya ditekan. Bahkan, pada tahun 1892 capoeira dilarang, padahal empat tahun sebelumnya perbudakan dinyatakan dihapus. Motif penekanan dan kemudian pelarangan oleh penguasa tersebut adalah capoeira memberi rasa persatuan di kalangan orang-orang Afrika itu, menciptakan sebuah kelompok yang kecil dan erat, juga menciptakan orang-orang dengan kepiawaian yang berbahaya. Pada masa itu capoeira, terutama yang di Rio de Janeiro dan Recife, adalah bentuk yang penuh kekerasan.

Baru pada masa pemerintahan Presiden Getulio Vargas yang mulai berkuasa tahun 1930, penguasa mengurangi tekanan pada ekspresi kebudayaan rakyat, termasuk capoeira. Pendekatan pemerintahan Vargas ini mungkin yang memudahkan karya Mestre Bimba, yang bertekad memulihkan dan memperbarui efisiensi dan martabat capoeira.
DUA nama besar tidak bisa terlupakan dalam perkembangan sejarah capoeira. Mereka adalah Mestre Bimba, yang nama aslinya adalah Manuel dos Reis Machado, dan Mestre Pastinha atau Vicente Ferreira Pastinha (mestre adalah sebutan untuk guru capoeira yang diperoleh setelah puluhan tahun belajar ilmu itu). Mereka masing-masing dianggap sebagai perwujudan dari dua jenis capoeira: regional dan angola.

Bimba lahir pada 23 November 1899 di Salvador, Bahia (meninggal di Goiania tahun 1974). Menurut Bira Almeida dalam Capoeira, a Brazilian Art Form, Bimba mulai belajar capoeira pada usia 12 tahun dengan Betinho, seorang Afrika yang merupakan kapten kapal pada sebuah perusahaan pelayaran di kawasan Bahia de Todos os Santos (Teluk Semua Orang Suci) di Bahia.
Ketika berusia 18 tahun, Bimba mulai mengajar. Perannya dalam sejarah capoeira ditunjukkan ketika pada tahun 1932 dia menjadi mestre pertama yang membuka sekolah resmi capoeira. Pada 9 Juli 1937, alur sejarah capoeira berubah dengan diakuinya secara resmi sekolah capoeira itu oleh pemerintah.

Mestre Bimba adalah pendekar yang ternama dan ditakuti di masanya. Menurut Nestor Capoeira dalam Capoeira, Pequeno Manual do Jogador (Editora Record, 2002), Bimba mempunyai sebutan "Três Pancadas" (tiga pukulan), yang merupakan jumlah maksimum pukulan darinya yang bisa ditahan oleh lawannya.

Namun, yang lebih dikenang orang adalah sumbangannya pada capoeiragem, capoeira secara keseluruhan. Dia mengembangkan gaya yang disebut sebagai capoeira regional, memperbaiki kualitas teknik gerakan yang diajarkan, menciptakan sekuens latihan, dan memperkaya ilmu itu dengan sapuan dari batuque, suatu ilmu tari-pertarungan keras yang dipelajarinya dari ayahnya, Luiz Candido Machado. Metode pengajaran baru yang diperkenalkannya berdasarkan pada delapan sekuens dari jurus dan tendangan yang sudah ditetapkan untuk dua pemain.
Adapun Mestre Pastinha (1889-1982) dikenal sebagai tokoh yang berdedikasi mempertahankan dan mengajarkan capoeira tradisional yang disebut capoeira angola. Dia belajar capoeira dari seorang Afrika asal Angola bernama Benedito, yang menurunkan ilmunya kepada Pastinha cilik setelah melihat bocah berbadan kecil itu dipukuli seorang anak yang lebih besar.

Beberapa tahun setelah Bimba, Pastinha juga membuka sekolah capoeira untuk gaya yang tradisional itu di Pelourinho, kawasan historis Kota Salvador. Pastinha dikenal sebagai filsuf capoeira karena kegemarannya menggunakan aforisme. Salah satu favoritnya adalah "Capoeira é para homen, mulher e menino, só não aprende quem nao quiser" (capoeira adalah untuk lelaki, perempuan dan anak-anak, yang tidak mempelajarinya hanyalah mereka yang tidak mau), menegaskan keterbukaan ilmu itu bagi siapa pun.

Pada puluhan tahun silam itu jenis regional (dan Senzala yang berkembang di Rio de Janeiro) berkembang pesat, dengan Capoeira Angola dipertahankan oleh Pastinha dan murid-muridnya. Namun, sekitar 20 tahun lalu ada kebangkitan capoeira angola yang menjadi sangat populer. Kini banyak mestre dan sekolah capoeira, baik di Brasil maupun di luar Brasil, menggabungkan dua gaya itu karena masing-masing mempunyai kelebihan.

Capoeira disebut sebagai paduan seni dan bela diri karena olah fisik hanyalah satu unsurnya. Seorang yang belajar capoeira baru akan disebut sebagai capoerista kalau dia selain berlatih kemampuan fisik dan mempelajari sejarah serta filsafat ilmu itu juga menguasai lagu-lagu dan belajar alat musik capoeira. Menurut Eduardo Correia Filho (Contra-mestre Duda) dari Grupo Luanda, Bahia, seorang capoerista harus menguasai ilmu itu dalam teknik, filsafat, kultural, dan musik.

Musik menjadi bagian tak terpisahkan dalam praktik capoeira. Kata-kata dalam lagu capoeira mempunyai arti khusus bagi mereka yang mempraktikkannya, bisa cerita historis, filsafat, maupun ejekan dan canda. Untuk menjadi capoerista, seseorang juga harus mempelajari bagaimana memainkan alat musik tradisionalnya serta iramanya.

Ciri khas musik capoeira adalah alat musik yang disebut berimbau. Bentuknya mirip busur panah, terbuat dari kayu dan kawat (dari ban mobil), dengan cabaça (labu) kering yang telah dikeluarkan bagian dalamnya sebagai resonator. Alat musik yang disebut sebagai jantung capoeira itu bunyinya "tung-tung-tung". Selain itu, ada pandeiro (tamborin), atabaque (gendang), agogo, dan reco-reco.

PADA tahun 1970-an, capoeira mulai merambah ke luar Brasil dan diterima hangat di AS, Eropa, dan kemudian Australia. Menurut Bira Almeida atau Mestre Acordeon yang mengajar murid-murid Amerika di San Francisco, bagi murid-muridnya di AS itu, capoeira adalah seni yang mengagumkan namun pelik, yang memberikan tantangan fisik dan enigma filosofis dari konteks sosiokultural dan sejarah yang berbeda. Oleh karena itu, dia ingin memberikan capoeira kepada mereka dengan cara akurat dan selengkapnya.

Keaslian capoeira di luar Brasil, menurut dia, harus dipertahankan dengan pengetahuan sejarahnya, hormat kepada tradisi dan ritualnya, mengerti filsafatnya, serta penggunaan gerakan yang tepat.

Di Jakarta, sejak beberapa bulan lalu, telah diajarkan capoeira dari kelompok bernama Asociação Grupo Bahia de Capoeira. Pengajarnya, Paul Andrew Stevens, yang mempunyai sebutan Ratinho, belajar capoeira sejak delapan tahun lalu di Brasil, AS, dan kemudian Australia, antara lain pada Mestre Paulo dos Anjos (yang meninggal tahun 1998) di Salvador dan Mestre Cicatriz di Sydney. Selain latihan fisik, dia juga mengajarkan sejarah, filsafat, dan ritual, serta alat musik capoeira. Menurut anak muda 19 tahun ini, murid-murid Indonesia tidak mempunyai kesulitan dalam menangkap yang diajarkan. Yang perlu ditingkatkan dari mereka? "Motivasi," katanya.

Mengajarkan capoeira dalam bentuknya yang utuh di tempat dengan konteks budaya dan sejarah yang berbeda memang bukan hal mudah. Mereka yang belajar capoeira di luar Brasil harus mempelajari tidak hanya suatu ilmu bela diri, melainkan juga seni yang menjadikannya suatu kesatuan. Ini memang perlu motivasi yang besar.
Bagi mereka yang tinggal di Bahia, negara bagian Brasil sebelah timur laut, capoeira adalah bagian keseharian mereka. Seperti kata Contra-mestre Duda, "Capoeira ada dalam darah kami."

Bagaimana tidak ada dalam darah dan udara yang mereka hirup kalau capoeira di Bahia dapat Anda temui di mana pun. Di Pelourinho, bagian kota bersejarah Salvador, itu menjadi sajian harian. Juga di lapangan, di pantai, serta di academias (sekolah-sekolah), capoeira bertebaran di seluruh Kota Salvador.

Menyadari kekayaan budaya yang bisa dimanfaatkan demi masyarakat itulah sekelompok capoeirista yang bergerak dalam bidang pendidikan jasmani, baik guru maupun mahasiswa, di Bahia membentuk kelompok untuk mengajarkan capoeira di sekolah-sekolah. Ada tiga perkumpulan yang terlibat dalam upaya ini: Centro Cultural de Capoeira Sao Salvador (SSA), Grupo GUETO, dan Grupo Luanda. "Kami ingin memperlihatkan kepada masyarakat sumbangan yang bisa diberikan capoeira. Yang kami sampaikan adalah capoeira sebagai kebudayaan, tidak hanya capoeira sebagai olahraga," kata Duda dari Grupo Luanda.

Pada anak usia 4-6 tahun, mereka menggunakan capoeira dengan perspektif meningkatkan kemampuan motorik anak: tangan, kaki, kepala, penglihatan periferik. Bagi anak usia 7-11 tahun yang dianggap telah berkembang kemampuan motoriknya, aspek sosial ditambahkan pada aspek fisik sehingga anak belajar kolektivitas: ada yang main musik, ada yang menyanyi, ada yang bermain, ada yang bertepuk tangan, semua terlibat dalam roda de capoeira. Aspek sosial ini diperkuat lagi pada kalangan murid remaja.

Capoeira mempunyai ritualnya. Seni ini dipraktikkan dalam sebuah roda, lingkaran orang yang terlibat, yang sering disebutkan sebagai gambaran roda kehidupan dengan masing-masing orang memainkan perannya.
Sebuah roda tradisional dimulai dengan sang mestre memainkan berimbau sendirian, disambung dengan alat musik lain. Lalu sang mestre menyanyikan sebuah laidanha, disambung dengan bersama menyanyikan entrada atau chula, menandai permainan di tengah roda bisa dimulai. Permainan yang diiringi lagu-lagu jenis corridos itu dimulai dengan dua pemain berjongkok berhadapan di kaki berimbau (sehingga muncul istilah No pé do berimbau-di kaki berimbau), menyerap energi yang diciptakan oleh roda, sebelum saling menyentuhkan telapak tangan dan masuk ke tengah roda.

Ketika menyaksikan Duda, Professora Brisa (Carolina de Magalhães) dan suaminya Contra-mestre Jean Pangolim dari Grupo GUETO, Contra-mestre Zézo dari SSA (murid Mestre Zé Doró), Professor Boda, Professor Aranola, Mestre Lazinho, dan teman-teman mereka dengan penuh semangat dan kegembiraan bermain capoeira dengan anak-anak, yang terlintas di pikiran adalah betapa beruntungnya anak-anak Salvador itu. Mereka tidak sekadar bermain capoeira. Mereka mendapat kesempatan mempelajari bagian kebudayaan mereka dengan penuh sukacita karena dedikasi para capoerista itu.

Anak-anak itu secara tak langsung diajarkan hidup bermasyarakat. Seperti kata Duda, "Dalam capoeira, orang diajarkan menghormati sesamanya. Capoeira bukanlah sekadar pertarungan dari sudut pandang teknik, tetapi suatu jogo (permainan) di mana Anda tidak ’bermain melawan’ (joga contra) melainkan ’bermain dengan’ (joga com) mitra Anda." (Diah Marsidi)

HAPKIDO

Shin Son Hapkido merupakan salah satu olahraga bela diri yang berasal dari Korea di samping Taekwondo. Hapkido bergerak berdasarkan prinsip lingkaran yang memanfaatkan kekuatan lawan. Teknik-teknik dalam Hapkido antara lain meliputi pukulan, tendangan, kuncian, bantingan, jurus, serta latihan senjata

TAEKWONDO

Taekwondo atau Tae Kwon Do adalah olah raga dan seni bela diri nasional Korea, dan salah satu olah raga yang paling banyak dilakukan di dunia. Dalam bahasa Korea, Tae (태, Hanja 跆) berarti "menendang atau menghancurkan dengan kaki", kwon (권, Hanja 拳) berarti "tonjokan atau pukulan dengan tangan atau tinju", dan Do (도, Hanja 道) berarti "cara atau seni". Jadinya, Taekwondo adalah "seni tangan dan kaki".

Taekwondo diciptakan oleh Jendral Choi Hong Hi asal Korea Selatan, yang merupakan kombinasi antara Shotokan Karate dan Kungfu Shaolin Utara (yang mana pada saat ini justru kedua ilmu beladiri tersebut banyak mengadaptasi tendangan tendangan taekwondo untuk ditambahkan dalam "kamus" gerakan beladiri mereka, baca paragraf akhir!).

Taekwondo sangat popular di seluruh dunia, dan bentuk Taekwondo dari Kukkiwon-Federasi Taekwondo Dunia sekarang dipertandingkan di Olimpiade. Taekwondo telah dikritik karena tidak mengajarkan teknik yang efektif di jalan. Kritik ini berdasarkan penekanan taekwondo dalam tendangan tinggi, yang dipandang beberapa orang tidak praktis ketika digunakan musuh yang bergerak dan bertahan. Lainnya menganggap hal ini merupakan suatu keuntungan dalam perkelahian. Taekwondo digunakan dalam latihan pertarungan tanpa senjata di beberapa angkatan bersenjata (di Prancis, Lebanon, dan Iran sebagai contoh).

Taekwondo selalu menekankan kepada: meringankan tubuh, kecepatan kaki, tendangan tendangan tipuan, serta kombinasi dua atau tiga tendangan sekaligus dalam satu serangan.
Taekwondo dikenal juga sebagai ilmu beladiri pertama di dunia yang menemukan kombinasi tendangan putar dua kali diudara dan diakhiri dengan tamparan di wajah musuh dengan kaki depan (Dollge). Tendangan ini cukup populer dalam dunia layar lebar, dan sekarang gerakan Dollge tersebut sudah mulai di adaptasi oleh beladiri lainnya seperti Tang Soo Do, Shotokan Karate, serta Wushu.

KARATE

Karate adalah seni bela diri yang berasal daripada Jepun (Jepang). Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepun daripada Okinawa.

Asas karate adalah sama. Namun terdapat beberapa jenis gaya (stail) karate yang utama iaitu:

1. Shotokan. 2. Goju-Ryu. 3. Shito-Ryu. 4. Wado-Ryu.
Latihan asas karate terbahagi kepada tiga seperti berikut:
1. Kihon. Ia adalah latihan teknik-teknik asas karate seperti teknik menumbuk, menendang dan menangkis.
2. Kata. Ia adalah latihan jurus atau bunga karate.
3. Kumite. Ia adalah latihan bela diri atau tempur.
Pada zaman sekarang karate juga boleh dibahagikan kepada aliran tradisional dan aliran sukan (sport). Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur manakalah aliran sukan lebih menumpukan teknik-teknik untuk pertandingan sukan.

Poomse Tae Geuk

Poomse merupakan intisari gerakan dasar Tae Kwon Do. Poomse terdiri atas 2 kata yaitu Poom dan Se yang berarti rangkain bentuk gerakan. Poomse merupakan pelajaran pokok dalam Tae Kwon Do yang dibagi menjadi dua yaitu :

  1. Poomse yang belum mencapai tingkatan sabuk hitam yaitu Tae Geuk 1 sampai dengan Tae Guk 8.
  2. Poomse untuk tingkatan sabuk hitam yaitu Kor Yo (Dan 1), Keum Gang (Dan 2), Tae Back (Dan 3), Pyon Won (Dan 4), Ship Jin (Dan 4, Dan 5), Ji Tae (Dan 5, Dan 6), Chun Kwon (Dan 6), Han Soo (Dan 7), IL Yeo (Dan 8).
Dalam mempelajari Tae Geuk harus mengikuti dan mengetahui diagram dan arah gerakannya yang berasal dari simbol-simbol filosofi timur yang disebut Pal Gwe (diagram segi delapan / Pat Kwa / Octagon).

Poomse Tae Geuk adalah poomse dasar dalam Tae Kwon Do. Tae berarti keagungan dan Geuk berarti keabadian, dengan demikian dapat disimpulkan tae geuk tidak berbentuk, tanpa permulaan dan akhir, segala sesuatu berawal dari keagungan dan keabadian. Tae Geuk mengikuti hokum alam ang disebut dengan Teori Ying Yang (Im yang) atau di Korea dikenal dengan nama Um Yang.

Arti pada setiap tingkatan Tae Geuk Poomse adalah sebagai berikut:

  1. Tae Geuk 1 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Keon dari Pal Gwe. Melambangkan sesuatu yang besar dan maha agung yang menjadi asal dari segala sesuatu. Keon merupakan permulaan segala sesuatu yang ada di bumi dan menjadi sumber penciptaan serta kekuatan yang berasal dari langit. Langit pula yang memberikan cahaya matahari dan hujan yang membuat segala sesuatu tetap tumbuh dan hidup. Tae Geuk 1 bersifat sederhana namun dilakukan dengan penuh kekuatan dan menampakkan keperkasaan sesuai wataknya.
  2. Tae Geuk 2 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Tae dari Pal Gwe. Melambangkan keteguhan hati dan kelemahlembutan. Dalam Tae batin seseorang tetap teguh namun gayanya tampak lemah lembut mengatasi keadaan dengan senyuman dan kebajikan. Tae Geuk 2 ini harus dilakukan dengan lemah lembut namun penuh kekuatan.
  3. Tae Geuk 3 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Ri dari Pal Gwe. Melambangkan matahari dan api yang memberikan cahaya, kehangatan dan harapan. Tae Geuk 3 harus dilakukan dengan penuh semangat dan daya yang variatif.
  4. Tae Geuk 4 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Jin dari Pal Gwe. Melambangkan guntur dan kilat yang menimbulkan panic dan ketakutan namun langit yang biru dan sinar matahari yang cerah akan muncul kembali. Prinsip ini menyarankan pada kita bahwa dalam menghadapi bahaya dan ketakutan seharusnya kita bersikap tenang dan berani, karena kita yakin bahwa setelah bahaya lewat akan ada masa yang cerah. Tae Geuk 4 ada beberapa gerakan yang sulit dan memerlukan ketenangan serta keseimbangan yang baik saat melaksanakannya.
  5. Tae Geuk 5 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Seon dari Pal Gwe. Melambangkan angina yang pembawaan aslinya halus dan menghembus sepoi-sepoi namun dapat menjadi dasyat seperti badai. Melambangakn sifat kerendahan dan kebaikan hati yang harus dilakukan terus menerus seperti angina yang selalu berhembus. Tae Geuk ini terlihat gerakan yang berulang-ulang, monoton namun sesekali menyentak dengan kuat.
  6. Tae Geuk 6 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Gam dari Pal Gwe. Melambangkan air yang merupakan elemen paling fleksibel, bentuknya berubah-ubah namun tidak berubah pada hakekatnya. Yang memberikan pengertian bahwa berbagai kesulitan dan penderitaan yang kita alami dapat diatasi jika kita tetap maju dan berbekal rasa percaya diri yang kuat.
  7. Tae Geuk 7 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Gan dari Pal Gwe. Melambangkan gunung yang menjadi symbol kestabilan karena dianggap tidak pernah bergerak dan puncaknya mengingatkan kita untuk tahu kapan kita harus bertindak dan kapan saatnya berhenti. Mengajarkan agar kita bertindak tidak gegabah. Tae Geuk 7 ini dilakukan dengan penuh ketenangan, namun tetap terlihat kokoh dan mantap.
  8. Tae Geuk 8 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Gon dari Pal Gwe. Melambangkan bumi yang kokoh, kuat dan bertenaga. Bumi merupakan sumber kehidupan dimana segala mahluk hidup dan tumbuh. Bumi dianggap sebagai ciptaan kekuatan dari langit. Tae Geuk 8 merupakan tae geuk terakhir, yang diharapkan dapat memperbaiki dan memperkokoh dasar kita sebelum mencapai tingkatan Dan.

Tae Kwon Do Basic

Gerakan dasar Tae Kwon Do (Ki Bon Do Jak) terbentuk dari kombinasi berbagai teknik gerakan menyerang dan bertahan. Dasar-dasar Tae Kwon Do terdiri atas 5 komponen, yaitu:

1. Keupso (bagian tubuh yang menjadi sasaran), terdiri atas :

  • Eolgol (bagian atas/kepala/muka)
  • Momtong (bagian tengah/badan)
  • Arae (bagian bawah tubuh)
2. Bagian tubuh yang digunakan untuk menyerang dan bertahan, terdiri atas :

  • Jumeok (kepalan), yaitu Deung-Jumeok (punggung kepalan), Me-Jumeok (kepalan palu), Pyon-Jumeok, Bam-Jumeok, Jipke-Jumeok.
  • Son (tangan), yaitu Sonnal (pisau tangan), Sonnal-Deung, Batang-Son (telapak tangan), Pyon-Jumeok, Pyonson-Keut dengan variasi Pyonson-Keut Sewo Chireugi, Pyonson-Keut Upeo Chireugi, Jechin-Pyonson-Keut, Gawison Keut, Ageum Son.
  • Palmok (lengan), yaitu An Palmok (lengan bagian dalam), Bakkat Palmok (lengan bagian luar) , Deung Palmok, Mit Palmok.
  • Palgup (siku).
  • Dari (kaki bagian atas) yaitu Mureup / lutut dan Jeonggang Wi / tulang kering, dan
  • Bal (kaki bagian bawah), yaitu Ap chuk (ujung depan telapak kaki), Dwitchuk (telapak kaki bagian belakang), Dwikumchi (tumit), Baldeung (punggung kaki), Balnal Deung, Balbadak (telapak kaki bagian dalam), Balkkeut, Balnal (pedang telapak kaki).
3. Seogi (sikap kuda-kuda), yang terdiri dari 3 sikap kuda-kuda pokok yaitu :

a. Neolpyo Seogi (sikap kuda-kuda terbuka), terdiri atas

  • Pyeonhi Seogi (sikap kuda-kuda rileks)
  • Charyeot Seogi (sikap kuda-kuda bersiap)
  • Naranhi Seogi (sikap kuda-kuda sejajar).
  • Juchum Seogi (sikap kuda-kuda duduk).
  • Ap Seogi (sikap kuda-kuda jalan pendek).
  • Ap Kubi Seogi (sikap kuda-kuda jalan panjang).
  • Dwit Kubi Seogi (sikap kuda-kuda kuda-kuda L).
  • Beom Seogi (sikap kuda-kuda harimau).
  • Hakdari Seogi (sikap kuda-kuda satu kaki)
b. Moa Seogi (sikap kuda-kuda tertutup), terdiri atas Moa Seogi dan Koa Seogi (sikap kuda-kuda kaki menyilang).

c. Teuksu Poom Seogi (sikap kuda-kuda khusus), terdiri atas Kibon Junbi Seogi (sikap kuda-kuda siap), Bojumeok Junbi Seogi (sikap kuda-kuda siap dengan menutup kepalan).


4. Makki (tangkisan), berbagai macam tangkisan diantaranya yaitu:

  • Arae Makki (tangkisan ke bawah)
  • Eolgol Makki (tangkisan ke atas)
  • Momtong An Makki (tangkisan ke tengah dari luar ke dalam)
  • Momtong Bakkat Makki (tangkisan ke tengah dari dalam ke luar)
  • Sonnal Momtong Makki (tangkisan ke tengah dengan pisau tangan)
  • Batang Son Momtong An Makki (tangkisan ke tengah dari luar dengan bantalan telapak tangan)
  • Kawi Makki (tangkisan menggunting)
  • Sonnal Bitureo Makki (tangkisan melintir dengan satu pisau tangan)
  • Hecho Makki (tangkisan ganda ke luar)
  • Eotgoreo Arae Makki (tangkisan silang ke arah bawah)
  • Wesanteul Makki (tangkisan ganda memotong arah bawah dan ke luar

5. Kongkyok Kisul (teknik serangan), terdiri atas:

a. Jereugi (pukulan), yaitu :

  • Momtong Jireugi (pukulan lurus ke depan, sasaran tengah / ulu hati).
  • Yeop Jireugi (pukulan lurus ke samping).
  • Dangkyo Teok Jireugi (pukulan ke rahang sambil menarik).
  • Du Jumeok Jecho Jireugi (pukulan ganda mengait ke atas).

b. Chigi (sabetan), yaitu :

  • Han Sonnal Mok Chigi (sabetan tunggal dengan pisau tangan)
  • Jebipoom Mok Chigi (sabetan dari lura ke dalam dibarengi tangkisan pisau tangan ke arah atas)
  • Me Jumeok Naeryo Chigi (sabetan dari atas ke bawah dengan bantalan kepalan bagian ruas kelingking)
  • Dung Jumeok Eolgul Ap Chigi (sabetan depan menggunakan bonggol atas kepalan dengan sasaran atas)
  • Palkup Dollyo Chigi (sabetan memutar dengan siku tangan)
  • Palkup Pyojeok Chigi (sabetan siku tangan dengan sabetan sasaran/target terpegang)
  • Mureup Chigi (sabetan yang menggunakan lutut)
  • Deung Jumeok Bakkat Chigi (sabetan dari dalam ke luar dengan menggunakan bonggol atas kepalan).

c. Chireugi (tusukan), yaitu :

  • Pyeonson Keut Sewo Chireugi (tutuksan dengan telapak tangan tegak)
  • Kawison Keut Chireugi (tusukan dengan 2 jari ke arah mata)

d. Chagi (tendangan), yaitu :

  • Ap Chagi (tendangan depan)
  • Dollyo Chagi (tendangan serong/memutar kesamping)
  • Yeop Chagi (tendangan samping)
  • Dwi Chagi (tendangan belakang)
  • Naeryo Chagi (tendangan menurun/mencangkul)
  • Twio Yeop Chagi (tendangan Yoep Chagi dengan melompat)
  • Dwi Huryeo Chagi (tendangan balik dengan mengkait)
  • Doobal Dangsang Chagi (tendangan ganda ke depan sambil melompat)
  • Twio Ap Chagi
  • Twio Dwi Chagi

Filosofi Sabuk pada Tae Kwon Do

Setiap tingkatan / Geup di Taekwondo berdasarkan Sabuk, dimana Sabuk di dalam Taewkondo memiliki filosofi sendiri untuk warna yang ada pada Sabuk tersebut, berikut arti dari masing - masing Sabuk yang ada di Taekwondo

  • Putih melambangkan kesucian,awal/dasar dari semua warna,permulaan.
  • Kuning melambangkan bumi,disinilah muali ditanamkan dasar-dasar TKD dengan kuat.
  • Hijau melambangkan hijaunya pepohonan,pada saat inilah dasar TKD mulai ditumbuhkembangkan.
  • Biru melambangkan birunya langit yang menyelimuti bumi dan seisinya,memberi arti bahwa kita harus mulai mengetahui apa yang telah kita pelajari.
  • Merah melambangkan matahari artinya bahwa kita mulai menjadi pedoman bagi orang lain dan mengingatkan harus dapat mengontrol setiap sikap dan tindakan kita.
  • Hitam melambangkan akhir,kedalaman,kematangan dalam berlatih dan penguasaan diri kita dari takut dan kegelapan.

Perubahan warna sabuk,harus memperlihatkan perubahan menyeluruh sikap hidup kita.

Wednesday, May 7, 2008

Sejarah Taekwondo

Taekwondo yang kita kenal sekarang , mempunyai sejarah yang sangat panjang seiring dengan perjalanan sejarah Bangsa Korea , dimana beladiri ini berasal. Sebutan Taekwondo sendiri baru dikenal sejak tahun 1954, merupakan modifikasi dan penyempurnaan dari berbagai beladiri tradisional Korea.

Latar belakang sejarah perkembangan Taekwondo dpt dibagi dalam 4 kurun waktu, yaitu : Pada masa kuno, masa pertengahan , masa modern dan masa sekarang.

  1. Pada Masa Kuno
    • Asal Mula Taekwondo
      Pada dasarnya manusia mempunyai insting untuk selalu melindungi diri dan hidupnya, hal ini secara disengaja maupun tidak akan memacu aktivitas fisiknya sepanjang waktu. Manusia dalam tumbuh dan berkembang tidak dapat lepas dari kegiatan / gerakan fisiknya , tanpa menghiraukan waktu dan tempat. Pada masa kuno manusia tidak punya pikiran lain untuk mempertahankan dirinya kecuali dengan tangan kosong, hal ini secara alamiah mengembangkan teknik - teknik bertarung dengan tangan kosong. Pada saat kemampuan bertarung secara tangan kosong dikembangkan sebagai suatu cara untuk menyerang dan bertahan, digunakan pula untuk membangun kekuatan fisik seseorang, bahkan dijadikan pertunjukan dalam acara ritual. Manusia mempelajari teknik - teknik bertarung didapat dari pengalaman nya melawan musuh - musuhnya. Inilah yang diyakini menjadi dasar seni beladiri Taekwondo yang kita kenal sekarang, dimana pada masa lampau dikenal sebagai 'Subak" , "Taekkyon", " Takkyon" , maupun beberapa nama lainnya. Pada asal mula sejarah Semenanjung Korea , ada 3 suku bangsa / kerajaan yang mempertunjukan kontes seni beladiri pada acara ritualnya. Ketiga kerajaan ini saling bersaing satu sama lain, ketiganya adalah Koguryo, Paekje dan Silla, semuanya melatih para ksatria untuk dijadikan salah satu kekuatan negara, bahkan para ksatria yang tergabung dalam militer saat itu, menjadi warga negara yang mempunyai kedudukan yang sangat terpandang. Menurut catatan , kelompok ksatria muda yang terorganisir seperti " Hwarangdo" di Silla dan "Chouisonin " di Koguryo, semuanya menjadikan latihan seni beladiri sebagai salah satu subyek penting yang harus dipelajari. Sebuah buku tentang seni beladiri yang disebut " Muye Dobo Tongji " menyebutkan : " ( Taekwondo) Seni pertarungan tangan kosong adalah dasar dari seni beladiri , yang membangun kekuatan dengan melatih tangan dan kaki hingga menyatu dengan tubuh agar dapat bergerak bebas leluasa, sehingga dapat digunakan saat menghadapi situasi yang kritis, berarti ( Taekwondo ) dapat digunakan setiap saat ".
    • Koguryo's 'sonbae' dan Taekkyon
      Koguryo yang berdiri pada 57 tahun seblem masehi di semenanjung Korea bagian utara, membentuk kesatuan para ksatria tangguh yang disebut 'Sonbae', yang artinya laki - laki yang bersifat baik dan tak pernah takut dalam bertarung / perang . Dalam buku sejarah disebutkan bahwa saat Dinasti Chosun Kuno memerintah , tanggal 10 Maret setiap tahunnya pada hari raya Koguryo, masyarakat merayakan nya dengan acara - acara kontes tarian pedang, memanah, subak ( Taekkyon ) dan sebagainya. Kontes Subak ( Taekyon ) sebutan untuk Seni beladiri Taekwondo pada masa itu adalah salah satu kegiatan yang sangat populer. Penemuan beberapa lukisan dinding makam pada masa Koguryo, yang menggambarkan 2 orang yang saling bertarung dalam sikap Takkyon ( Taekwondo ), membuktikan bahwa seni beladiri yang sekarang kita kenal sebagai Taekwondo telah dipraktekan sejak 2000 tahun yang lalu di Semenanjung Korea.

      Gambar di atas adalah lukisan dinding yang ditemukan pada langit - langit kuburan kerajaan Muyong - chong jaman dinasti Koguryo, yang menggambarkan 2 orang yang sedang mempraktekkan beladiri ( Taekwondo kuno )

    • Shilla's 'Hwarang" dan Taekkyon
      Kerajaan Shilla berdiri pada tahun 57 sebelum masehi di tenggara semenanjung Korea, secara geografis tidak terancam dari luar, tetapi dengan berdirinya Kerajaan Pakje disisi barat dan awal serbuan dari Koguryo dari utara maka Kerjaan Shilla mempersenjatai diri dengan meningkatkan dengan kemampuan seni beladiri yang berkembang saat itu. " Hwarangdo" adalah tipe beladiri dari Shilla yang merupakan asimilasi dari sistem beladiri " Sonbae " dari Koguryo. Anggota - anggota Hwarang berlatih keras dengan semboyannya yang terkenal yaitu bakti kepada orang tua, setia pada negara & bangsa, pantang mundur dlm perang. Kim Yu Sin dan Kim Chun Chu adalah orang - orang yang memberikan sumbangan besar bagi penyatuan 3 kerajaan di Semennajung Korea. Dalam catatan peristiwa dari Chosun melukiskan kehidupan para Hwarang , sebutan bagi para ksatria yang mempelajari Hwarangdo, para hwarang diseleksi oleh kerajaan , dan setelahnya mereka hidup dan berkumpul dalam kelompok menurut yang mereka pelajari, seperti Subak ( bentuk dari Taekwondo kuno ), bermain pedang, berkuda dan bermain " Sirum" / gulat gaya Korea. Diwaktu damai, hwarang bekerja melayani masyarakat, membantu keadaan darurat dan membangun jalan & benteng, siap mengorbankan hidupnya saat berperang. Hwarang sangat dipengaruhi oleh disiplin agama Budha, dapat dilihat di Kyonju Museum sangat jelas ditunjukan bahwa seni beladiri ini dipraktekan di kuil - kuil, digambarkan dengan adegan laki - laki yang tampak kuat dalam sikap menyerang dan bertahan dengan tangan kosong. Sikap yang ditampilkan sangat menarik adalah sikap Kumgang Yoksa yang sama dengan sikap pada beladiri Taekwondo sekarang . Ini membuktikan bahwa pada masa kerajaan Shilla " Subak" dan "Taekkyon" tampak / muncul bersamaan , dan keduanya menandakan bahwa teknik - teknik tangan dan kaki tersebut dipakai dalam Taekwondo sekarang ini.

      Gambar di atas adalah patung 2 ksatria yang sedang dalam pose / sikap beladiri Kumgang Yoksa, yang terdapat pada gua Sokkuram di Kyongju, yang berasal dari abad ke 7.

    • Taekkyon dari Koguryo ke Shilla
      Seni bela diri Taekkyon yang populer di Koguryo, ternyata tertulis juga di Shilla, dibuktikan dengan : i. "Hwarang " ( Sonrang ) di Shilla mempunyai arti kata yang sama dengan "Sonbae" di Koguryo jika ditinjau dari sudut etymology. ii. Keduanya memiliki sistem organisasi dan hirarki yang sama. iii. Menurut catatan sejarah, Sonbae di Koguryo digunakan dalam kompetisi Taekkyon saat perayaan nasional, hwarang di Shilla juga memainkan Taekkyon ( Subak,dokkyoni, atau taekkoni ) dalam perayaan seperti "palkwanhoe" dan "hankawi", hal ini menunjukkan perkembangan secara sistematis teknik beladiri kuno ke Taekkyon / Sonbae yang menjadi dasar seni beladiri di Korea sekitar 200 tahun sesudah masehi. Mulai abad ke 4 sesudah masehi seni beladiri ini makin memasyarakat dan berkembang melalui sekolah / perguruan seni beladiri dengan berbagai kelompok teknik tangan kosong dan kaki.
  2. Masa Pertengahan
    Pada Dinasti Koryo ( 918 sampai 1392 Masehi ) yang mana penyatuan Semenanjung Korea setelah Shilla, Taekkyon berkembang sangat sistematis dan merupakan mata ujian penting untuk seleksi ketentaraan. Teknik Taekkyon tumbuh menjadi senjata yang efektif untuk membunuh. Pada permulaan Dinasti Koryo, kemampuan beladiri menjadi kualifikasi untuk merekrut personel ketentaraan sebab kerajaan membutuhkan kemampuan pertahanan yang kuat setelah penaklukan seluruh semenanjung Korea. Kemampuan dalam beladiri Taekkyon sangat menentukan pangkat seseorang dalam ketentaraan. Raja - raja pada dinasti Koryo sangat tertarik pada kontes Taekkyon yang disebut "Subakhui", yang populer juga dimasyarakat dan dijadikan ajang perekrutan tentara. Namun pada akhir pemerintahan Dinasti Koryo ketika penggunaan senjata api mulai dikenal , membuat dukungan terhadap kemajuan beladiri berkurang jauh.
  3. Masa Modern
    Pada masa modern Korea , saat Dinasti Chosun ( Yi ) pada tahun 1392 sampai 1910, Kerajaan Korea dan Jaman penjajahan Jepang sampai tahun 1945, Subakhui dan Taekkyon, sebutan Taekwondo pada saat itu mengalami kemunduran dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah yang memodernisasi tentaranya dengan senjata api. Dinasti Yi yang didirikan dalam ideologi Konfusius , lebih mementingkan kegiatan kebudayaan daripada seni beladiri. Kemudian , saat raja Jungjo setelah invasi oleh Jepang pada tahun 1952, pemerintah kerajaan membangun kembali pertahanan yang kuat dengan memperkuat latihan ketentaraan dan praktek seni beladiri. Seputar periode ini, terbit sebuah buku tentang ilustrasi seni bela diri yang diber judul Muyedobo - Tonji, yang memuat gambar - gambar dan ilustrasi yang mirip / menyerupai bentuk / sikap ( Poomse ) dan Gerakan Dasar ( Basic Movement ) Taekwondo sekarang, namun tentunya hal ini tak dapat diperbandingkan begitu saja dengan Taekwondo saat ini yang telah dimodernisasi dengan penelitian yang berdasarkan ilmu pengetahuan modern ( Scientific Studies). Akan tetapi , saat penjajahan Jepang semua kesenian rakyat dilarang termasuk Taekkyon, untuk menekan rakyat Korea. Seni beladiri Taekkyon hanya diajarkan secara sembunyi oleh para master beladiri sampai masa kemerdekaan pada tahun 1945.
  4. Masa Sekarang
    Seiring dengan kemerdekaan Korea dari penjajahan Jepang, konsep baru tentang kebudayaan dan tradisi mulai bangkit. Banyak para ahli seni beladiri mendirikan sekolah / perguruan beladiri . Dengan meningkatnya populasi dan hubungan kerjasama yang baik antar perguruan beladiri, akhirnya diputuskan menyatukan berbagai nama seni beladiri mereka dengan sebutan : Tae Kwon Do, pada tahun 1954. Pada 16 September 1961 sempat berubah menjadi Taesoodo namun kembali menjadi Taekwondo dengan organisasi nasionalnya bernama Korea Taekwondo Association ( KTA ) pada tanggal 5 Agustus 1965, dan menjadi anggota Korean Sport Council. Pada era tahun 1965 sampai 1970 an , KTA banyak menyelenggarakan berbagai acara pertandingan dan demonstrasi untuk berbagai kalangan pada skala nasional. Taekwondo berkembang dan menyebar dipelbagai kalangan, hingga diakui sebagai disiplin / program resmi oleh Pertahanan Nasional Korea , menjadi olahraga wajib bagi tentara dan polisi. Tentara Korea yang berpartisipasi dalam perang Vietnam dibekali keahlian Taekwondo, pada saat itulah Taekwondo mendapatkan perhatian besar dari dunia. Nilai lebih ini menjadikan Taekwondo dinyatakan sebagai olahraga nasional Korea. Pada tahun 1972, Kukkiwon didirikan, sebagai markas besar Taekwondo, hal ini menjadi penting bagi pengembangan Taekwondo keseluruh dunia. Kejuaran dunia Taekwondo yang pertama diadakan pada tahun 1973 di Kuk Ki Won,Seoul ,Korea Selatan, sampai saat ini kejuaraan dunia rutin dilaksanakan setiap 2 tahun sekali. Disamping itu , untuk meningkatkan kualitas Instruktur Taekwondo diseluruh dunia, Kukkiwon membuka Taekwondo Academy, yang mulai tahun 1998 telah membuka Program pelatihannya bagi Instruktur Taekwondo dari seluruh dunia. Kuk Ki Won, sebagai markas besar Taekwondo Dunia, disinilah pusat penelitian dan pengembangan Taekwondo, Pelatihan para Instruktur , sekretariat promosi ujian tingkat internasional. Pada 28 Mei 1973, The World Taekwondo Federation ( WTF ) didirikan, dan sekarang telah mempunyai 156 negara anggota dan Taekwondo telah dipraktekan oleh lebih dari 50 juta orang diseluruh penjuru dunia, dan angka ini masih terus bertambah seiring perkembangan Taekwondo yang makin maju dan populer. Taekwondo telah dipertandingkan diberbagai pertandingan multi even diseluruh dunia , dan Taekwondo telah dipertandingkan sebagai ekshibisi pada Olympic Games 1988 Seoul dan telah dipertandingkan sebagai cabang olahraga resmi di Olympic Games 2000, Sydney.